Kamis, 07 Maret 2013

makalah manajemen sarana dan prasarana


makalah manajemen sarana dan prasarana


BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa. Menurut Mulyasa (2006:3) “Setidaknya terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yakni: (1) sarana gedung, (2) buku yang berkualitas, (3) guru dan tenaga kependidikan yang yang professional.
Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas. Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru dengan siswa dan membuat aturan kelompok yang produktif. Di kelaslah segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya. Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok bahasanya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selayaknyalah kelas dikelola dengan bagi, professional, dan harus terus-menerus.
Pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siswa dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya dimasa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa
2.      Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dapat dikemukakan penulis adalah:
1.      Apa pengertian pengelolaan kelas?
2.      Apa tujuan, masalah, dan hambatan dalam pengelolaan kelas?
3.      Bagaiamana berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas?
4.      Bagaimana cara pengelolaan kelas yang nyaman dan menyenangkan?
5.      Prinsip – prinsip pengelolaan kelas?

3.      Tujuan
Tujuan – tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah:
1.      Mengerti apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas.
2.      Memahami tujuan, masalah, dan hambatan yang terjadi dalam pengelolaan kelas.
3.      Mengetahui dan memahami berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas.
4.      Mengetahui prinsip – prinsip pengelolaan kelas.













BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.
Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut, yaitu:
1.      Kelas dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangan yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2.      Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Suharsimi Arikunto (1988) pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptakan kondisi belajar yang optimal. Pengertian lain dikemukaan sebagai proses seleksi tindakan yang dilaljukan guru dalam fungsinya sebagai penanggung jawab kelas dan seleksi penggunaan alat-alat belajar yang tepat sesuai masalah yang ada dan karakteristik kelas yang dihadapi.
Menurut definisi operasional, pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa yang berlangsung pada lingkunagan sosial, emosional, dan intelektual anak dalam kelas menjadi sebuah lingkungan belajar yang membelajarkan. Pengertian lain menyatakan sebagai usaha yang dengan sengaja dilakukan oleh guru agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan pembelajaran.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas menyangkut empat hal:
1.      Ruang kelas
2.      Usaha guru
3.      Kondisi belajar
4.      Belajar yang optimal
Beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan management kelas dalam pengertian kelas adalah:
1.      Kurikulum
2.      Bangunan dan Sarana
3.      Guru
4.      Murid
5.      Dinamika Kelas
6.      Lingkungan Sekitar
1.      Tujuan pengelolaan kelas
Secara umum tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Adapaun secara khusus tujuan dari pengelolaan kelas adalah:
1.    Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2.    Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3.     Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
4.    Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
2.      Berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa baik secara berkelompok maupun secara individual.Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.
Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
aPendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
b. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
c. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
d. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral.
Program atau kegiatan yang yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas. Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.
g. Pendekatan Sosial-Emosional
Pendekatan sosial-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.
h. Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan in, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
3.      Masalah dan Hambatan yang Terdapat dalam Pengelolaan Kelas
Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu :
1. Masalah Individual :
·         Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
·         Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan)
·         Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
·         Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
2. Masalah Kelompok :
·        Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.
·       Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya.
·       Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya.
·       “Membombong” anggota kelas yang melanggar norma kelompok.
·       Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
·         Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru, karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru.
Dalam pelaksanaan pengelolaan kelas akan ditemui berbagai faktor penghambat, diantara lain adalah:
·         Faktor guru
·         Faktor murid
·         Faktor lingkungan keluarga
·         Faktor Fasilitas
B.            PENGATURAN KONDISI KELAS
1.             Pengelolaan Kelas yang Nyaman dan Menyenangkan
Kelas merupakan taman belajar bagi siswa dan menjadi tempat mereka, bertumbuh dan berkembang baik secara fisik, intelektual maupun emosional.Oleh karena itu kelas harus dikelola sedemikian rupa sehingga benar-benar merupakan taman belajar yang menyenangkan.
Syarat-syarat kelas yang baik adalah:
(1) rapi, bersih, sehat, tidak lembab,
(2) cukup cahaya yang meneranginya,
(3) sirkulasi udara cukup,
(4) perabot dalam keadaan baik,cukup jumlahnya dan ditata dengan rapi, dan
(5) jumlah siswa tidak lebih dari 40 orang.
2.      PENGATURAN FASILITAS KELAS
Beberapa syarat yang perlu diupayakan agar kelas nyaman dan menyenangkan menurut adalah sebagai berikut:
1. Tata Ruang Kelas
Pada prinsipnya sistem belajar yang kita anut di SD adalah sistem klasikal. Tetapi ada beberapa metode mengajar yang tidak selalu memakai sisten klasikal, misalnya metode eksperimen, diskusi kelompok, dan lain sebagainya.
Dalam penataan ruang kelas, almari kelas dapat ditempatkan disamping papan tulis atau disamping meja guru. Jika ada almari kelas tambahan dapat ditaruh dibelakang kelas, sebaiknya almari tersebut terbuat dari kaca untuk penyimpan piagam,vandel, dan kepustakaan kelas. Pengaturan tempat perabot kelas dapat dipindah-pindahkan sesuai dengan keadaan atau kondisi setempat.
2. Menata Perabot Kelas
Perabot kelas adalah segala sesuatu perlengkapan yang harus ada dan diperlukan kelas. Perabot kelas meliputi :
(a) papan tulis,
(b) meja kursi guru,
(c) meja kursi siswa,
(d) almari kelas,
(e) jadwal pelajaran,
(f) papan absensi,
(g) daftar piket kelas,
(h) kalender pendidikan,
(i) gambar-gambar,
(j) tempat cuci tangan,
(k) tempat sampah,
(l) sapu dan alat pembersih lainnya, dan
(m) gambar-gambar alat peraga.
Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut.
a. Hangat dan Antusias
Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
c. Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.

d. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
e. Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f. Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.
4.      Enam Indikator Pengelolaan Kelas yang Berhasil
1.      Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
2.      Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.
3.      Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
4.      Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5.      Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)
6.      Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari
Ada dua hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak:
1.    Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
2.    Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.

Senin, 24 Desember 2012

hh


































Kamis, 20 Desember 2012

evaluasi


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam buku yang berjudul Curriculum Plannning and Develoment mengatakan bahwa Evaluasi adalah proses untuk menilai kinerja pelaksanaan suatu kurikulum artinya  evaluasi tidak akan terjadi kecuali telah mengetahui tujuan yang akan dicapai, tujuan tersebut harus diperiksa hal-hal yang telah dan sedang dilakukan serta evaluasi harus mengambil kesimpulan berdasarkan kriteria tertentu. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka kita tidak akan mengetahui kelemahan kurikulum tersebut pada saat pelaksanaan dilapangan. Tulisan ini akan membahas mengenai pengertian evaluasi kurikulum, pentingnya evaluasi kurikulum dan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan evaluasi kurikulum.
Selama ini model kurikulum yang berlaku adalah model kurikulum yang bersifat akademik. Kurikulum yang demikian cenderung terlalu berorientasi pada isi atau bahan pelajaran. Berdasarkan hasil beberapa penelitian ternyata model kurikulum yang demikian kurang mampu meningkatkan kemampuan anak didik secara optimal. Hal ini terbukti dari rendahnya kualitas pendidikan kita dibandingkan dengan negara lain. Sebagai contoh bahwa di beberapa negara Asean menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada tingkat terendah, untuk mata pelajaran matematika berada pada urutan ke 32 pada tingkat SMP. Bukti ini hanya sebagian kecil saja dari keterpurukan output pembelajaran yang selama ini dikembangkan berdasarkan kurikulum akademik yang berlaku.
Dampak lain dari implementasi kurikulum akademik ini ternyata tidak mampu memberikan nilai etika, moral, dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan siswa dimanapun ia berada. Maka dengan adanya evaluasi diharapkan dapat memperbaiki aspek-aspek diatas sehingga model kurikulum yang diterapkan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.







B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas telah menghasilkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian evaluasi kurikulum?
2.      Apa saja yang menjadi aspek-aspek dari evaluasi kurikulum?
3.      Apa saja tinjauan masing-masing konsep/model evaluasi kurikulum?
4.      Apa tujuan dari evaluasi kurikulum?
5.      Apa fungsi evaluasi kurikulum?

C.     Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian evaluasi kurikulum
2.      Untuk mengetahui apa saja aspek-aspek  dari evaluasi kurikulum
3.      Untuk memahami tinjauan masing-masing konsep/model evaluasi kurikulum
4.      Untuk mengetahui tujuan dari evaluasi kurikulum
5.      Untuk memahami fungsi dari evaluasi kurikulum

















BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Evaluasi Kurikulum

Evaluasi kurikulum memang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. dan kurikulum itu sendiri semakin berkembang seiring berjalannya waktu dan praktik pendidikan yang harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju pula.  dan karena kurikulum itu sendiri bersifat dinamis maka dalam praktik dan perkembangannya membutuhkan evaluasi. pengertian evaluasi kurikulum itu berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang berbeda-beda pula. berikut adalah pengertian evaluasi terlebih dahulu  menurut para ahli:
1.      Stephen Wiseman dan Dauglas Pidgeson dalam bukunya yang berjudul Curriculum Evaluation, evaluasi yaitu perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan.
2.      Dalam buku The School Curriculum, Evaluasi dinyatakan sebagai suatu proses pengumpulan data secara sistematis, yang bertujuan untuk membantu pendidik untuk memahami dan menilai suatu kurikulum, serta memperbaiki metode pendidikan. Evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk mengetahui dan memutuskan apakah program yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan semula.
3.       selain itu dalam buku Curriculum Planning and Development,  dinyatakan bahwa Evaluasi adalah proses untuk menilai kinerja pelaksanaan suatu kurikulum. yang di dalamnya ada tiga makna yaitu:
a.      Evaluasi tidak akan terjadi kecuali telah mengetahui tujuan yang akan dicapai.
b.      Untuk mencapai tujuan tersebut harus diperiksa hal-hal yang telah dan sedang dilakukan.
c.       Evaluasi harus mengambil kesimpulan berdasarkan kriteria tertentu.
Berikut adalah pengertian Evaluasi Kurikulum menurut para ahli:
1.      Tyler, 1949  Evaluasi kurikulum adalah upaya untuk menentukan tingkat perubahan yang terjadi pada hasil belajar (behavior).
2.      Orint M, 1993 Evaluasi kurikulum yaitu memberikan pertimbangan berdasarkan kriteria yang disepakati dan data yang diperoleh di lapangan.
3.      Cronbach, 1980  Evaluasi kurikulum yaitu proses pemeriksaan sitematis terhadap peristiwa yang terjadi pada waktu suatu kurikulum dilaksanakan dan akibat dari  pelaksanaan kurikulum tersebut.
B.      Aspek-Aspek Evaluasi Kurikulum   
Evaluasi kurikulum merupakan suatu bidang yang berkembang dengan cepat, termasuk evaluasi terhadap implementasi kurikulum. evaluasi kurikulum sendiri terdiri dari berbagai aspek yang saling berhubungan, dan yang akan dijelaskan sebagai berikut:
1.      Keterkaitan antara Evaluaasi Kurikulum dan Pengembangan Kurikulum

a.      Evaluasi Kurikulum dan Sistem Kurikulum
Secara fungsional evaluasi kurikulum merupakan bagian dari sistem kurikulum. sistem kurikulum ini mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu pengembangan kurikulum, pleaksanaan kurikulum, dan evaluasi efek sistem kurikulum.
Evaluasi kurikulum minimal berfokus pada empat bidang, yaitu evaluasi terhadap penggunaan kurikulum, desain kurikulum, hasil dari siswa, dan sistem kurikulum. efek dari evaluasi akan memulihkan kinerja dari berbagai bagian dari sistem kurikulum. seleksi dan pengorganiisasian pihak-pihak pengambang kurikulum, prosedur penyususnan, pengaturan dan pelaksanaan kurikulum, fugsi koordinator dalam tim penyusunan, pengaruh tingkat guru dan kondisi pengajaran terhadap kurikulum, semuanya perlu dievaluasi dan hasilnya dapat memperbaiki sistem kurikulum secara keseluruhan.

b.      Evaluasi Kurikulum dan Pengembangan Kurikulum 
masalah yang biasanya dibahas oleh pengmbang kurikulum yaitu kapan diadakan evaluasi kurikulum, dan pada posisi mana serta apa makna evaluasi kurikulum pada proses pengembangan kurikulum. Tayler berpendapat bahwa evaluasi kurikulum minimal terjadi dua kali, yaitu pada awal dan akhir pengembangan kurikulum, agar dapat mengukur dalam jangka waktu tersebut yang telah ditetapkan. dan ia berpendapat bahwa hal tersebut harus dilaksanakan bertutut-turut sepanjang proses pengembangan kurikulum yang terdiri dari empat tahapan, yaitu penentuan tujuan pendidikan, pemilihan pengalaman pembelajaran,pengorganisasian pengalaman pembelajaran, dan evaluasi efek pembelajaran.
pengembangan kurikulum ialah proses yang meliputi kegiatan untuk melaksanakan percobaan evaluasi, sehingga kekurangan yang ditemukan dapat diperbaiki untuk hasil yang lebih baik. evaluasi dalam penyusunan dan perancangan kurikulum sangat sulit, dan tidak memiliki criteria yang sama.
berikut adalah empat keadaan yang harus dihindari dalam mengembangkan fungsi dan makna evaluasi kurikulum terhadap pengembangan kurikulum, yaitu:
1)      apabila dalam desain kurikulum tidak terdapat rancangan evaluasi, desain seperti ini tidak perlu dilaksanakan.
2)      apabila dalam proses evaluasi terjadi penyimpangan tujuan evaluasi.
3)      apabila tidak menghiraukan kesimpulan dan penilaian evaluasi yang sudah ada.
4)      evaluasi sering digunakan sebagai alat peserta didik, yang sebenarnya harus menimbulkan kepercayaan diri pada peserta didik.

2.      Prinsip-Prinsip Evaluasi Kurikulum 
Adapun prinsip-prinsip dalam evaluasi kurikulum adalah sebagai berikut:
a.      Tujuan tertentu, maksudnya yaitu setiap program evaluasi kurikulum itu terarah dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan secara jelas dan spesifik. Tujuan-tujuan itu pula yang mengarahkan berbagai kegiatan dalam proses pelksanaan evaluasi kurikulum.
b.      Bersifat objektif, maksudnya harus sesuai dengan kenyataan yang ada. bersumber dari data yang ada nyata dan akurat yang diperoleh dari instrument yang benar.
c.       Bersifat komperhensif, yaitu mencakup semua dimensi atau aspek yang terdapat dalam ruang lingkup kurikulum. Seluruh komponen kurikulum harus mendapat perhatian dan pertimbangan secara seksama sebelum diadakan pengambilan keputusan.
d.      kooperatif dan bertanggung jawab dalam perencanaan, plaksanaan dan keberhasilan program evaluasi itu adaah tanggung jawab bersama pihak-pihak yang terkait dan saling terlibat dalam proses pendidikan seperti, guru, kepala sekolah, penilik, orang tua, dan juga siswa itu sendiri. disamping tanggung jawab utama lembaga penelitian dan pengembangan.
e.      Efisien, maksudnya efisien dalam penggunaan waktu, biaya, tenaga, dan peralatan yang menjadi penunjang. sehingga hasil evaluasi harus diupayakan lebih tinggi atau seimbang dengan materil yang digunakan.
f.        berkesinambungan, hal ini berkaitan dengan adanya perbaikan kurikulum. sehingga peran  guru dan kepala sekolah sangat penting, karena merekalah yang mengtahui pelaksanaan, permasalahan, dan keberhasilan dari kurikulum yang diterapkan.




3.      Jenis-Jenis Strategi Evaluasi        
    Teori evaluasi mengandung kerangka kerja konseptual bagi pengmbangan strategi evaluasi. oleh sebab itu penting dirumuskan apa yang dimaksud dengan evaluasi. perumusan yang tepat akan menjadi landasan dalam pelksanaannya, dan sebaliknya jika perumusan itu kurang kuat, dapat menjadi penyebab utama terjadinya kegagalan dalam evaluasi.
Dahulu evaluasi evaluasi didefinisikan sebagai kegiatan yang disamakan dengan pengukuran dan juga tes. pernyataan tersebut tidak sejalan dengan perilaku dan tujuan, serta memunculkan jurang perbedaan yang dalam antara pertimbangan professional dan program.
Saat ini telah dikembangkan suatu definisi yang memandang evaluasi sebagai suatu hal yang sangat penting, karena memberikan informasi dalam proses pembuatan keputusan. Oleh karena itu strategi evaluasi dikembangkan berdasarkan asumsi-asumsi berikut:
a.      mutu program bergantung pada mutu keputusan yang dibuat.
b.      mutu keputusan bergantung pada kemampuan manajer untuk mengidentifikasi berbagai alternative yang terdapat berbagai situasi keputusan, melalui berbagai pertimbangan yang seksama.
c.       dalam pembuatan keputusan yang seksama, dibutuhkan informasi yang tepat dan dapat dipercaya.
d.      pengadaan informasi tersebut memerlukan alat yang sistematis.
e.      proses pengadaan informasi bagi pembuatan keputusan erat hubungannya dengan konsep evaluasi yang digunakan.
kerangka pengertian yang berpijak pada berbagai asumsi di atas secara jelas memandang evaluasi sebagai analisis  dalam upaya perbaikan program, bukan sebagai kritik terhadap program. secara lebih tegas evaluasi bertujuan untuk menyediakan informasi bagi pembuat keputusan. berikut adalah empat jenis keputusan yang berkaitan dengan pertimbangan dalam menilai suatu program:
1)      keputusan-keputusan perencanaan yang ditunjukan bagi perbaikan yang dibutuhkan pada daerah tertentu, tujuan umum dan tujuan khusus.
2)      keputusan-keputusan pemograman khusus yang berkenaan dengan prosedur, personel, fasilitas, anggaran biaya, dan tuntutan waktu dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan.
3)      keputusan-keputusan pelaksanaan (implementasi) dalam mengarahkan kegiatan yang telah diprogram.
4)      keputusan-keputusan program perbaikan yang meliputi berbagai kegiatan perubahan, penerusan, terminasi dan sebaginya.
Selain empat jenis keputusan yang telah diungkapkan di atas, berikut adalah empat jenis strategi evaluasi diantaranya yaitu:
1)      strategi pertama berkaitan dengan penentuan lingkungan tempat terjadinya perubahan, terdapat berbagai kebutuhan yang tidak atau belum terpenuhi, dan juga berbagai masalah yang mendasari timbulnya kebutuhan serta kesempatan untuk terjadinya perubahan.
2)      strategi kedua yaitu pengenalan dan penilaian terhadap berbagai kemampuan yang relevan. strategi ini sangat besar gunanya dalam pencapaian tujuan program dan desain yang berguna untuk mencapai tujuan-tujuan khusus.
3)      strategi ketiga yaitu pendekatan dan prediksi hambatan yang mungkin terjadi dalam desain procedural atau implementasi sepanjang tahap pelaksanaan program.
4)      strategi keempat berkaita dengan keefektifan proyek yang telah dilaksanakan, melalui pengukuran dan penafsiran hasil-hasilyang telah dicapai sehingga  seorang evaluator dapat memilih strategi yang tepat.

4.      Prosedur Strategi Evaluasi
a.      Evaluasi Kebutuhan dan Feasibility
Evaluasi kebutuhan dan feasibility ini dapat dilakukan oleh  organisasi atau administrator tingkat pelaksana. dan prosedur yang dilakukan diantaranya yaitu:
1)      merumuskan tipe dan jenis mata pelajaran atau program yang sekarang sedang disampaikan.
2)      menetapkan program yang dibutuhkan.
3)        menilai (assess) data setempat berdasarkan tes baku, tes intelegensi, dan tes sikap yang ada.
4)      menilai riset yang telah ada, baik riset setempat maupun riset tingkat nasional yang sama atau berhubungan.
5)      menetapkan feasibility pelaksanaan program sesuai dengan sumber-sumber yang ada (manusiawi dan materil).
6)      mengenali masalah-masalah yang mendasari kebutuhan.
7)      menentukan bagaimana proyek akan dikembangkan guna berkontribusi pada sistem sekolah atau sekolah setempat.

b.      Evaluasi Masukan (Input)
       Evaluasi masukan melibatkan para supervisor, konsultan, dan ahli mata pelajaran yang dapat merumuskan pemecahan masalah. pemecahan masalah haruslah dilihat dari hubungannya dengan hambatannya contoh: penerimaan pemecahan masalah oleh guru dan siswa, kecakapan kerja (plaksanaan pemecahan masalah dalam kelas atau sekolah), keampuhan (sejauh mana usaha pemecahan masalah tersebut), dan biaya ekonomi (berkaitan dengan biaya pemecahan masalah dengan hasil yang diharapkan).
            maka, evaluasi masukan menuju ke arah pengembangan berbagai strategi dan prosedur, yang dalam pembuatan keputusannya sangat dibuthkan informasi yang akurat. bukan hanya itu evaluasi masukan juga berusaha mengenali dimana terjadi atau adanya masalah sehingga dapat diawasi selama berlangsungnya implementasi.

c.       Evaluasi Proses   
Evaluasi proses yaitu sistem pengolahan informasi dalam upaya membuat keputusan yang berkenaan dengan ekspansi, kontraksi, modifikasi, dan klarifikasi strategi pemecahan atau penyelesaian masalah. dalam hal ini, staf perpustakaan memainkan peran yang sangat penting, karena mereka secara langsung melakukan monitoring terhadap desain dan prosedur pelaksanaan program, serta memberikan informasi tentang kegiatan-kegiatan program.


d.      Evaluasi Produk   
Evaluasi produk berkaitan dengan pengukuran hasil-hasil program dan kaitannya dengan tercapainya tujuan. berbagai variable yang diuji bergantung pada tujuan, perubahan sikap, perbakan kemampuan, dan perbaikan tingkat kehadiran.
Evaluasi yang seksama sebaiknya  meliputi semua komponen evaluasi tersebut. Tetapi  yang sering  terjadi  karena keaadaan yang tidak memungkinkan, tidak semua komponen mendapat perhatian yang penuh. sehingga administrator program harus pintar dalam memilih aspek mana yang harus mendapatkan perhatian yang lebih atau intensif. berdasarkan evaluasi tersebut akan didapatkan informasi dan data yang valid dan dapat dipercaya dalam upaya pembuatan keputusan dan program perbaikan. 
 
5.      Komponen Desain Evaluasi
Desain Evaluasi menguraikan tentang, data yang harus dikumpulkan dan analisis data untuk membuktikan nilai dan efektikitas kurikulum. berikut adalah beberapa komponen desain evaluasi diantaranya :
a.      penentuan garis besar evaluasi
-          identifikasi tingkat pembuatan keputusan.
-          proyek situasi keputusan bagi setiap tingkat pembuatan keputusan dengan menentukan lokas, focus, waktu dan komposisi alternatifnya.
b.      pengumpulan informasi
-          spesifikasi sumber-sumber informasi yang akan dikumpulkan.
-          spesifikasi instrument dan metode pengumpulan informasi yang diperlukan.
-          spesifikasi prosedur sampling ayng akan digunakan.
-          spesifikasi kondisi dan skedul informasi untuk dikumpulkan.
c.       organisasi informasi
-          spesifikasi format informasi yang akan dikumpulkan.
-          spesifikasi alat pengkodean, pengorganisasian, dan penyimpanan informasi.
d.      Analisis informasi
-          spesifikasi prosedur analisis yang akan dilaksanakan dan spesifikasi alat untuk melaksanakan analisis.
e.      Pelaporan informasi
-          penentuan piahk penerima (audience) laporan evaluasi.
-          spesifikasi alat penyedia informasi pada penerima informasi.
-          spesifikasi format laporan informasi.
-          jadwal pelaporan informasi.
f.        administrasi evaluasi
-          rangkuman jadwal evaluasi
-          penentuan staf dan berbagai tuntutan sumber, serta perencanaan pemenuhan tuntutan tersebut.
-          spesifikasi alat untuk memenuhi tuntutan kebijakan dalam melaksanakan evaluasi.
-          penilaian keampuhan desain evaluasi guna menyediakan informasi yang valid, reliable, credible, dan sesuai dengan waktu yang tersedia.
 
6.      Model-Model Evaluasi Kurikulum
a. Evaluasi model penelitian
Eksperimen lapangan dalam pendidikan, dimulai pada tahun 1930, dengan menggunakan metode yang biasa digunakan dalam penelitian botani pertanian. Para ahli botani pertanian mengadakan percobaan untuk mengetahui produktivitas bermacam-macam benih. Percobaan serupa juga dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh tanah, pupuk dan sebagainya terhadap produktivitas suatu macam beih. Model eksperimen dalam botani pertanian dapat digunakan dalam pendidikan, anak dapat disamakan dengan benih sedangkan kurikulum serta berbagai fasilitas dan sistem sekolah dapat disamakan dengan tanah dan pemeliharaannya. Untuk mengetahui tingkat kesuburan benih (anak) serta hasil yang dicapai pada akhir program percobaan dapat digunakan dengan tes (pre test dan post test).
Ada beberpa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut, yaitu :
-          Kesulitan administrative, sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen
-          Masalah teknik dan logis, yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang diuji.
-          Sulit mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, pengaruh guru-guru tesebut sulit dikontrol
-          Adanya keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan.

b. Evaluasi model objektif (tujuan)
Dalam model objektif , evaluasi merupakan bagain yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. Para evaluator juga mempunyai peranan menghimpun pendapat-pendapat orang luar tentang inovasi kurikulum yang dilaksanakan. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain tetapi diukur dengan seperangkat tujuan khusus.
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengembang model objektif:
-          Adanya kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum
-          Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa
-          Menyususn materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut
-          Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan

7.      Proses Evaluasi Kurikulum

Berbagai model desain kurikulum memerlukan berbagai cara evaluasi yang berbeda pula. salah satu model evaluasi yang sering digunakan adalah desain tujuan. Evaluasi ini terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
·         pelaksanaan evaluasi internal
·         rancangan revisi
·         pendapat ahli
·         komentar yang dapat dpercaya
·         model kurikulum

8.      Rencana Evaluasi Kurikulum

Rencana evaluasi kurikulum menyangkut beberapa aspek pengembangan kurikulum, termasuk sejumlah metode dan teknik yang sering dipakai dalam bidang lain selain bidang pendidikan. Evaluasi ini tidak hanya menggunakan satu metode atau dua metode saja, melainkan menggunakan berbagai metode evaluasi secara terpadu. dalam hal ini evaluasi bersifat terbuka. metode evaluasi dianggap cocok jika dapat menghasilkan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan. evaluasi yang lengkap meliputi  cara pengumpulan dan pengolahan data, anlisis terpadu dan laporan kesimpulan evaluasi. dalam hal ini kumpulan data dapat dilakukan dengan cara obeservasi, wawancara, pemberian kuisioner dan sebagainya.
pada saat pemilihan teknik evaluasi kurikulum, factor utama yang berkaitan dengan evaluasi kuantitatif dan evaluasi kualitatif, terdapat beberapa perbedaan pendapat. ada pihak yang berpendapat bahwa pemilihan kuantitatif dan kualitatif adalah criteria penilaian keilmiahan evaluasi tersebut. namun, adapula pendapat yang menyatakan bahwa evaluasi kurikulum memerlukan seperangkat teknik penilaian dan evaluasi . dalam hal ini, tidaklah mungkin semua data ditunjukan dengan angka, karena pada kenyataannya banyak data yang terdiri atas pendapat guru, ahli, atau pengembang kurikulum. menurut pendapat ini, dibandingkan dengan angka-angka, kesimpulan yang bersifat analisis akan lebih bernilai terhadap perbaikan kurikulum. oleh karena itu, secara umum dapat disimpulkan bahwa teknik kuantitatif dan kualitatif harus digunakan secara terpadu.

 C. Tujuan Evaluasi Kurikulum  
Tujuan evaluasi kurikulum adalah :
1. Menentukan efektivitas suatu kurikulum/program pembelajaran
2. Menentukan keunggulan dan kelemahan kurikulum/program pembelajaran
3. Menentukan tingkat keberhasilan pencapaian hasil belajar peserta didik
4. Menentukan masukan untuk memperbaiki program
5. Mendeskripsikan kondisi pelaksanaan kurikulum
6. Menetapkan keterkaitan antarkomponen kurikulum

D.      Fungsi Evaluasi Kurikulum  
Fungsi Evaluasi kurikulum, adalah :
· Menurut Tyler :
Untuk memperbaiki kurikulum (melalui hasil belajar à evaluasi produk)
· Menurut Cronbach :
Untuk memperbaiki kurikulum dan memberi penghargaan
· Menurut Scriven :
Untuk mengurangi kekurangan-kekurangan yang ada.
Scriven membedakan evaluasi kurikulum dalam 2 fungsi yakni Fungsi Formatif dan Fungsi Sumatif
Fungsi Formatif : dilaksanakan apabila kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu dari kurikulum yang sedang dikembangkan
Fungsi Sumatif : dilaksanakan apabila kurikulum telah dianggap selesai pengembangannya (evaluasi terhadap hasil kurikulum)
  
     






  

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari pemaparan materi diatas maka mendapat suatu kesimpulan sebagai berikut :
1.        Evaluasi kurikulum adalah usaha yang dilakukan untuk memperbaiki kurikulum yang telah ada untuk menjadi lebih baik dilapangan.
2.        Tujuan evaluasi kurikulum adalah memperbaiki kurikulum yang telah ada untuk mencapai kurikulum yang lebih baik lagi. Dengan evaluasi kurikulum ini kita dapat mengetahui kelemahan dan keunggulan kurikulum tersebut.
3.        Menurut scriven fungsi kurikulum ada 2 yaitu
a.       Fungsi Formatif : dilaksanakan apabila kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu dari kurikulum yang sedang dikembangkan
b.      Fungsi Sumatif : dilaksanakan apabila kurikulum telah dianggap selesai pengembangannya (evaluasi terhadap hasil kurikulum)













Daftar Pustaka
Arifin Zainal, 2011, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung :   
           Rosda.
Hamalik Oemar, 2011, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara